Khutbah Jumat: Nikah Dulu atau Mapan Dulu?

  

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan pemuda dan orang tua: “lebih baik nikah dulu atau mapan dulu?” Pertanyaan ini sederhana, tetapi dampaknya besar bagi kehidupan.

1. Islam Menganjurkan Menikah

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan penghalang utama untuk menikah, selama ada ikhtiar dan tawakal kepada Allah. Bahkan Allah sendiri menjanjikan kecukupan setelah menikah.

Begitu juga sabda Nabi SAW:

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu menikah, maka menikahlah…” (HR. Bukhari Muslim)

Namun, kalimat “mampu” tentu harus kita pahami dengan benar.

2. Apa Makna ‘Mampu’ dalam Menikah?

Sebagian orang mengira “mampu” berarti harus kaya raya, punya rumah sendiri, mobil sendiri, dan tabungan banyak. Padahal ulama menjelaskan bahwa makna “mampu” adalah mampu memberi nafkah yang layak, meskipun sederhana, dan mampu secara mental serta tanggung jawab.

Jadi, mapan dalam Islam bukanlah kemewahan, tetapi kesiapan dasar:

  • Ada penghasilan stabil, meski tidak besar
  • Siap memimpin dan bertanggung jawab
  • Siap menjaga pasangan dari maksiat
  • Siap berkomitmen dan saling mendukung

Jika ini ada, maka seseorang sudah dianggap mampu.

 

3. Kapan Menunda Pernikahan?

Islam sangat realistis. Menikah itu sunnah, tetapi jangan sampai menzalimi pasangan. Jika seseorang sama sekali tidak punya pekerjaan, tidak ada usaha, tidak ada perencanaan, atau masih labil emosinya, maka menunda pernikahan untuk memperbaiki diri adalah pilihan bijak.

Sebagaimana kaidah:

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang kuat, bukan yang lemah.”

Kekuatan di sini termasuk kekuatan mencari nafkah dan kekuatan mental.

4. Justru Banyak Pasangan Mapan Setelah Menikah

Tidak sedikit pasangan yang awalnya sederhana, tapi setelah menikah hidupnya menjadi lebih teratur dan rezekinya justru terbuka. Mengapa?

Karena pernikahan menghadirkan:

  • Ketenangan jiwa
  • Fokus hidup
  • Motivasi untuk bekerja lebih sungguh-sungguh
  • Doa dan dukungan pasangan

Nabi SAW bersabda bahwa pernikahan adalah penyempurna setengah agama, dan siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya.

5. Jawaban Seimbang: Siap Menikah Sambil Membangun KEMAPANAN

Jamaah yang dirahmati Allah,
Jadi sebenarnya bukan nikah dulu atau mapan dulu, tetapi siapkan kemampuan dasar, kemudian bangun kemapanan bersama setelah menikah. Tidak harus menunggu kaya, tidak pula boleh nekat tanpa bekal apa pun.

Yang Allah inginkan adalah:

  • Kesiapan bertanggung jawab
  • Usaha yang nyata
  • Niat yang benar
  • Tawakal setelah ikhtiar

 

Di antara kisah paling terkenal adalah kisah pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra.

Ketika Ali datang kepada Nabi SAW untuk melamar Fatimah, beliau tidak memiliki apa-apa selain sebuah baju besi. Itu pun ia jual untuk biaya pernikahan. Ali bukan orang kaya saat menikah. Tidak punya rumah mewah, tidak punya harta berlimpah. Namun Ali punya kesiapan iman, akhlak, dan tanggung jawab. Hasilnya? Rumah tangga mereka penuh keberkahan hingga akhir hayat.

Dari kisah ini kita belajar:
👉 Tidak harus kaya untuk menikah.
👉 Yang penting sanggup bertanggung jawab, jujur, dan berusaha.

 

Penutup

Jadi kesimpulannya:

🔹 Jika sudah punya penghasilan, sudah dewasa, dan siap mental — nikahlah.
🔹 Jika belum punya arah hidup, belum punya pekerjaan, belum matang emosinya — perbaiki dulu sebelum menikah.
🔹 Dan bila sudah menikah, bangunlah kemapanan itu bersama-sama.

Semoga Allah memberikan kita pasangan yang salih/salihah, rezeki yang berkah, dan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Khutbah Jumat: Nikah Dulu atau Mapan Dulu?

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat...