Bersyukur Dipertemukan dengan Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan, sehingga pada tahun ini kita kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan dalam keadaan baik-baik saja. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Pertama-tama, marilah kita menundukkan hati dan merenungkan satu hal penting: tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan tahun ini. Ada yang tahun lalu masih bersama kita, masih berpuasa, masih tarawih bersama, namun hari ini mereka telah lebih dahulu dipanggil oleh Allah. Maka sungguh, bisa bertemu Ramadhan dalam keadaan sehat adalah nikmat yang luar biasa besar.

Kita harus bersyukur pada tahun ini kita bisa bertemu bulan Ramadhan dengan keadaan baik-baik saja. Kita masih bisa makan sahur, masih bisa berbuka, masih bisa melaksanakan shalat tarawih, dan masih bisa membaca Al-Qur’an dengan tenang. Semua itu bukan semata-mata karena kekuatan kita, melainkan karena rahmat dan karunia Allah.

Namun di saat kita merasakan kenyamanan dan kecukupan, kita juga harus mengingat saudara-saudara kita yang sedang diuji. Saudara-saudara kita di Sumatra saat ini sedang terdampak bencana. Ada yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan harta benda, bahkan mungkin ada yang kehilangan anggota keluarganya. Mereka menyambut Ramadhan dalam keadaan serba kekurangan.

Bayangkan bagaimana rasanya menyambut bulan suci tanpa rumah yang layak, tanpa persiapan yang cukup, bahkan mungkin tanpa kepastian makanan untuk berbuka. Sementara kita di sini masih bisa menyiapkan hidangan sahur dan berbuka dengan berbagai pilihan. Perbedaan keadaan ini seharusnya menggugah hati kita untuk lebih bersyukur, bukan malah mengeluh.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Rasa syukur bukan sekadar ucapan “Alhamdulillah” di lisan. Syukur adalah kesadaran hati bahwa semua nikmat berasal dari Allah, dan diwujudkan dengan menggunakan nikmat itu untuk kebaikan. Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya di dalam Al-Qur'an, tepatnya dalam Surah Ibrahim ayat 7:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Ayat ini mengandung dua pesan penting: janji dan peringatan. Janjinya jelas, siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmatnya. Tambahan nikmat itu bisa berupa kesehatan yang lebih baik, rezeki yang lebih lapang, keluarga yang harmonis, atau hati yang tenang. Namun peringatannya juga tegas: jika kita kufur terhadap nikmat, lalai, dan tidak peduli, maka azab Allah sangatlah pedih.

Kufur nikmat bukan hanya berarti tidak percaya kepada Allah, tetapi juga tidak menghargai nikmat yang diberikan. Misalnya, ketika kita mengeluh tentang makanan berbuka padahal masih banyak orang yang tidak punya apa-apa. Atau ketika kita menghamburkan makanan secara berlebihan sehingga banyak yang terbuang. Itu semua adalah bentuk kurangnya rasa syukur.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menumbuhkan rasa syukur. Ketika kita menahan lapar dan haus sepanjang hari, kita diajarkan untuk merasakan bagaimana rasanya kekurangan. Rasa lapar itu bukan untuk menyiksa, tetapi untuk menyadarkan. Agar kita lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Hadirin sekalian,

Jika kita benar-benar bersyukur, maka rasa syukur itu akan mendorong kita untuk berbagi. Kita tidak hanya menikmati nikmat sendiri, tetapi juga ingin meringankan beban saudara-saudara kita. Kita bisa menyalurkan zakat, infak, dan sedekah. Kita bisa membantu korban bencana dengan doa dan bantuan yang kita mampu. Jangan merasa kecil jika bantuan kita sedikit, karena di sisi Allah, yang dinilai adalah keikhlasan.

Bersyukur juga berarti memanfaatkan kesempatan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih diberi umur untuk bertemu Ramadhan lagi. Oleh karena itu, mari kita manfaatkan momentum bulan Ramadhan ini untuk memperbanyak amalan supaya kita bisa menjadi dan termasuk dalam golongan orang yang bertakwa.

Takwa adalah tujuan utama puasa. Orang yang bertakwa adalah orang yang sadar bahwa Allah selalu melihatnya. Ia menjaga lisannya, menjaga perbuatannya, dan menjaga hatinya. Ia tidak hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan, tetapi juga membawa semangat Ramadhan ke bulan-bulan berikutnya.

Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan. Jika tahun lalu kita masih malas membaca Al-Qur’an, maka tahun ini perbaiki. Jika tahun lalu kita kurang peduli kepada sesama, maka tahun ini tingkatkan kepedulian. Jika tahun lalu kita masih sering mengeluh, maka tahun ini perbanyak syukur.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai bulan introspeksi. Saat kita duduk untuk sahur, ingatlah saudara-saudara kita yang mungkin sahur dengan sangat sederhana. Saat kita berbuka dengan makanan yang cukup, ingatlah mereka yang masih berjuang dalam keterbatasan. Dari situ akan tumbuh rasa syukur yang tulus.

Semoga dengan rasa syukur itu, Allah menambah nikmat kepada kita. Menambah iman kita, menambah keberkahan keluarga kita, dan menambah kebaikan dalam hidup kita. Dan semoga kita tidak termasuk orang-orang yang kufur nikmat sehingga mendapatkan murka Allah.

Akhirnya, marilah kita berdoa semoga Ramadhan tahun ini benar-benar membawa perubahan dalam diri kita. Menjadikan kita pribadi yang lebih bersyukur, lebih peduli, dan lebih bertakwa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khutbah Jum'at : Habluminallah Habluminannas

Racun Hati

MEMBENTUK PRIBADI MUTTAQIN MELALUI PUASA RAMADHAN