Khutbah Jumat : Bulan Sya'ban Sebagai Persiapan untuk Menyambut Berkah Ramadhan

Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan oleh banyak orang. Letaknya berada di antara dua bulan besar, yaitu Rajab dan Ramadhan. Karena fokus kita sering tertuju pada Ramadhan, maka Sya’ban kerap terlewat begitu saja tanpa persiapan yang matang.

Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita tentang keutamaan bulan ini. Beliau bersabda:

“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah, dan aku senang ketika amalanku diangkat aku dalam keadaan berpuasa.”
(HR. An-Nasa’i)

Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Pertama, Rasulullah ﷺ menyebut Sya’ban sebagai bulan yang dilalaikan manusia. Artinya, banyak orang kurang memanfaatkan bulan ini untuk beribadah. Kedua, Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jika amal kita akan dihadapkan kepada Allah, maka sudah sepatutnya kita memperbaiki kualitas ibadah dan amal saleh kita, bukan justru lalai dan menunda-nunda.

Hadirin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini memerintahkan kita untuk melakukan muhasabah, yaitu evaluasi diri. Apa yang telah kita siapkan untuk kehidupan akhirat? Apa saja amal yang sudah kita lakukan, dan dosa apa yang masih sering kita ulangi?

Bulan Sya’ban adalah momentum yang sangat tepat untuk muhasabah sebelum kita memasuki bulan Ramadhan. Jangan sampai Ramadhan datang, tetapi hati kita belum siap, kebiasaan buruk masih melekat, dan ibadah masih terasa berat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Salah satu bentuk persiapan yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ adalah dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ paling banyak berpuasa sunnah selain di bulan Sya’ban.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa di bulan Sya’ban bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi latihan spiritual. Puasa melatih kesabaran, keikhlasan, pengendalian hawa nafsu, serta kesiapan fisik dan mental untuk menghadapi puasa Ramadhan yang jauh lebih panjang.

Dengan membiasakan puasa di bulan Sya’ban, maka saat Ramadhan tiba, tubuh dan jiwa kita tidak kaget, dan ibadah terasa lebih ringan.

Hadirin rahimakumullah,

Namun, ibadah tidak hanya berkaitan dengan hubungan kita kepada Allah, tetapi juga dengan hubungan kita kepada sesama manusia. Karena itu, di bulan Sya’ban ini, Allah juga memerintahkan kita untuk memperbaiki akhlak dan hubungan sosial.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ


“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu.”
(QS. Ali ‘Imran: 133)

Mari kita gunakan bulan Sya’ban untuk memperbanyak istighfar, memohon ampunan kepada Allah, serta saling memaafkan dengan sesama. Jangan biarkan dendam, kebencian, dan iri hati mengotori hati kita saat memasuki Ramadhan.

Karena hati yang bersih akan lebih mudah menerima cahaya hidayah dan keberkahan ibadah.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Jika kita menginginkan Ramadhan yang lebih bermakna, lebih khusyuk, dan lebih penuh pahala, maka persiapkanlah diri sejak bulan Sya’ban. Perbaiki shalat kita, biasakan membaca Al-Qur’an walaupun sedikit tetapi rutin, jaga lisan dari ghibah dan ucapan yang sia-sia, serta luruskan niat dalam setiap ibadah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Jangan menunggu Ramadhan untuk berubah, tetapi mulailah perubahan itu dari sekarang, dari bulan Sya’ban.

Penutup:

Hadirin yang dirahmati Allah, jangan sampai bulan Sya’ban berlalu begitu saja tanpa makna. Manfaatkanlah bulan ini sebagai bulan persiapan, bulan muhasabah, dan bulan peningkatan amal sebelum kita memasuki Ramadhan.

Semoga Allah memberkahi kita di bulan Sya’ban dan menyampaikan kita ke bulan Ramadhan dalam keadaan iman yang kuat, hati yang bersih, serta kesehatan yang sempurna.

Allahumma barik lana fi Sya’ban, wa ballighna Ramadhan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Khutbah Jumat : Bulan Sya'ban Sebagai Persiapan untuk Menyambut Berkah Ramadhan

Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan oleh banyak orang. Letaknya berada di antara dua bulan besar, yaitu Rajab dan Ramadhan. Ka...