kultum : Puasa Melatih Kita untuk Sabar
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam, serta kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Salah satu hikmah terbesar dari ibadah puasa adalah melatih kita untuk sabar. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi latihan pengendalian diri secara menyeluruh. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, kita menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa. Di sinilah kita belajar makna sabar yang sesungguhnya.
Sabar artinya menahan diri. Menahan diri dari apa? Menahan diri dari keinginan yang berlebihan, menahan diri dari amarah, menahan diri dari perbuatan dosa, serta menahan diri dari reaksi yang tergesa-gesa. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering dikendalikan oleh hawa nafsunya. Ketika marah, langsung membentak. Ketika kecewa, langsung mencaci. Ketika memiliki keinginan, ingin segera terpenuhi. Namun puasa hadir untuk mendidik kita agar tidak selalu menuruti dorongan tersebut.
Bayangkan ketika kita merasa sangat lapar dan haus di siang hari, sementara makanan dan minuman ada di hadapan kita. Tidak ada yang melihat jika kita ingin minum seteguk air. Tetapi kita memilih untuk tidak melakukannya. Mengapa? Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Inilah latihan sabar yang luar biasa. Kita menahan diri bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena takut dan cinta kepada Allah.
Dengan kita sabar, maka kita akan terbiasa untuk menahan diri dari perbuatan dosa. Jika kita mampu menahan diri dari sesuatu yang halal seperti makan dan minum, maka seharusnya kita lebih mampu menahan diri dari sesuatu yang haram. Jika kita bisa menahan lapar, maka kita juga harus bisa menahan lisan dari berkata kasar, menahan tangan dari mengambil yang bukan haknya, dan menahan hati dari iri dan dengki.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa puasa adalah perisai. Perisai dari apa? Perisai dari api neraka dan perisai dari perbuatan dosa. Ketika seseorang berpuasa lalu ada yang mencacinya, Rasulullah mengajarkan agar ia mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Artinya, puasa mengajarkan kita untuk merespons dengan kesabaran, bukan dengan emosi.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Sabar juga menjadikan kita bisa mengendalikan diri. Dalam kehidupan modern saat ini, banyak orang mudah terpancing emosi. Di media sosial misalnya, seseorang bisa marah hanya karena komentar yang tidak sejalan dengan pendapatnya. Padahal satu kalimat yang ditulis dengan emosi bisa menimbulkan permusuhan panjang. Jika nilai sabar dari puasa benar-benar kita resapi, maka kita akan lebih berhati-hati dalam bertindak dan berbicara.
Puasa melatih kita untuk berpikir sebelum bereaksi. Ketika haus dan lelah, kita belajar tetap tenang. Ketika menghadapi godaan, kita belajar mengatakan “tidak”. Ini adalah latihan pengendalian diri yang sangat berharga. Orang yang mampu mengendalikan diri adalah orang yang kuat. Bukan yang kuat fisiknya, tetapi kuat jiwanya.
Dalam kehidupan keluarga, kesabaran sangat dibutuhkan. Suami perlu sabar menghadapi kekurangan istri, istri perlu sabar menghadapi kekurangan suami, orang tua perlu sabar mendidik anak, dan anak perlu sabar menaati orang tua. Jika tidak ada kesabaran, rumah tangga mudah goyah. Puasa mengajarkan kita untuk melatih kesabaran itu setiap hari selama sebulan penuh.
Begitu pula dalam pekerjaan dan kehidupan sosial. Tidak semua keinginan kita terpenuhi. Tidak semua orang memperlakukan kita dengan baik. Terkadang kita menghadapi masalah yang terasa berat. Namun jika kita memiliki kesabaran, maka kita tidak mudah putus asa dan tidak mudah menyerah.
Jika kita mendapat masalah maka kita harus sabar, karena masalah bisa diselesaikan dengan ketenangan. Dan ketenangan didapatkan dari kesabaran. Orang yang sabar tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia menenangkan diri, berpikir jernih, lalu mencari solusi terbaik. Sebaliknya, orang yang tidak sabar sering kali memperkeruh keadaan dengan emosinya.
Coba kita renungkan, berapa banyak masalah yang sebenarnya bisa selesai dengan baik jika disikapi dengan sabar? Pertengkaran bisa reda jika salah satu pihak memilih diam dan menahan diri. Kesalahpahaman bisa diluruskan jika kita tidak langsung marah. Bahkan ujian hidup yang berat pun terasa lebih ringan ketika kita bersabar dan yakin bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Ini adalah janji yang sangat indah. Ketika kita bersabar, kita tidak sendirian. Ada pertolongan Allah yang menyertai kita. Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi tetap berusaha dengan hati yang tenang dan penuh tawakal.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Jangan sampai puasa kita hanya menghasilkan lapar dan haus, tetapi tidak menghasilkan kesabaran. Jangan sampai setelah Ramadhan berlalu, kita kembali menjadi pribadi yang mudah marah, mudah tersinggung, dan sulit mengendalikan diri. Seharusnya setelah sebulan berlatih sabar, kita menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih bijak, dan lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan.
Mari kita jadikan puasa sebagai madrasah kesabaran. Setiap rasa lapar mengingatkan kita untuk menahan diri. Setiap rasa haus mengingatkan kita untuk mengendalikan emosi. Setiap godaan mengingatkan kita untuk tetap teguh dalam ketaatan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar, yang mampu menahan diri dari perbuatan dosa, yang mampu mengendalikan emosi, dan yang mampu menghadapi setiap masalah dengan ketenangan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar