Kultum: Keutamaan Bulan Ramadhan
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan yang penuh kemuliaan, bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Ia bukan hanya bulan menahan lapar dan haus, tetapi bulan pendidikan jiwa, bulan perubahan, dan bulan kebangkitan spiritual. Di tengah kondisi dunia sekarang yang penuh tantangan krisis moral, tekanan ekonomi, derasnya arus informasi, serta kehidupan yang serba cepat. Ramadhan hadir sebagai oase penyejuk hati dan penata kembali arah hidup kita.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…”
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an, kitab petunjuk bagi seluruh manusia. Jika hari ini kita melihat begitu banyak kebingungan, pertikaian, hoaks di media sosial, serta gaya hidup yang menjauh dari nilai-nilai agama, maka solusi sejatinya kembali kepada Al-Qur’an. Ramadhan mengajarkan kita untuk lebih dekat dengan kalam Allah, bukan sekadar membacanya, tetapi juga memahami dan mengamalkannya.
Di era digital sekarang, banyak waktu kita tersita oleh layar: ponsel, media sosial, dan berbagai hiburan. Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk mengurangi distraksi dan memperbanyak refleksi. Jika biasanya kita menghabiskan berjam-jam scrolling tanpa manfaat, maka Ramadhan mengajak kita menggantinya dengan tilawah, dzikir, dan doa. Inilah bentuk relevansi Ramadhan dengan kondisi kekinian ia menjadi filter dan penyeimbang di tengah arus informasi yang tak terbendung.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Keutamaan Ramadhan yang kedua adalah sebagai bulan pengampunan dosa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa luas rahmat Allah. Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, sering kali kita lalai, melakukan kesalahan, bahkan terjerumus dalam dosa baik dosa lisan, tulisan, maupun perbuatan. Media sosial misalnya, bisa menjadi ladang pahala, tetapi juga bisa menjadi sumber dosa: ghibah, fitnah, ujaran kebencian, dan pamer berlebihan.
Ramadhan datang membawa peluang besar untuk membersihkan diri. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan lisan dari kata-kata kasar, menahan jari dari mengetik komentar yang menyakiti, dan menahan hati dari iri dan dengki. Jika puasa kita benar, maka Ramadhan akan menjadi proses detox ruhani di tengah polusi moral zaman sekarang.
Keutamaan berikutnya adalah adanya malam Lailatul Qadar. Allah berfirman dalam QS. Al-Qadr ayat 3:
“Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.”
Artinya, satu malam di bulan Ramadhan lebih baik dari delapan puluh tiga tahun ibadah. Di tengah usia manusia yang terbatas, Allah memberikan bonus luar biasa. Ini menunjukkan betapa Allah ingin memudahkan hamba-Nya meraih pahala besar.
Jika kita melihat kondisi sekarang, banyak orang mengejar lembur demi tambahan penghasilan, mengejar karier siang dan malam, bahkan mengorbankan waktu bersama keluarga. Semua itu demi keuntungan dunia yang nilainya terbatas. Namun Ramadhan mengajarkan bahwa ada “investasi akhirat” yang jauh lebih menguntungkan. Satu malam Lailatul Qadar nilainya melebihi puluhan tahun kerja keras duniawi. Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh mencarinya?
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dalam hadis disebutkan bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Ini menggambarkan suasana spiritual yang sangat kondusif. Namun realitanya, tantangan tetap ada. Setan mungkin dibelenggu, tetapi hawa nafsu masih ada. Godaan tetap muncul, baik dalam bentuk kemalasan, konsumtif berlebihan saat berbuka, atau menjadikan Ramadhan hanya sebagai tradisi tahunan tanpa makna.
Fenomena sekarang menunjukkan bahwa Ramadhan kadang berubah menjadi bulan konsumsi: belanja meningkat, makanan berlimpah, bahkan mubazir. Padahal esensi Ramadhan adalah kesederhanaan dan empati. Puasa mengajarkan kita merasakan lapar agar kita peduli pada yang kekurangan. Di tengah ketimpangan ekonomi yang masih terjadi, Ramadhan seharusnya memperkuat solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah.
Ramadhan juga relevan sebagai bulan penguatan keluarga. Di era kesibukan dan individualisme, momen sahur dan berbuka bersama adalah kesempatan mempererat hubungan. Shalat tarawih berjamaah, tadarus bersama anak-anak, dan diskusi ringan tentang makna puasa bisa menjadi pendidikan karakter yang luar biasa.
Hadirin sekalian,
Tujuan utama puasa sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa. Takwa berarti sadar bahwa Allah selalu mengawasi kita. Inilah nilai yang sangat dibutuhkan di zaman sekarang. Ketika korupsi terjadi, ketika kecurangan dianggap biasa, ketika kejujuran terasa mahal, maka solusi utamanya adalah takwa.
Puasa melatih kejujuran. Tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa selain Allah. Kita bisa saja makan diam-diam, tetapi kita memilih tidak melakukannya karena sadar Allah melihat. Jika nilai ini terbawa ke luar Ramadhan, maka kita akan menjadi pribadi yang jujur dalam pekerjaan, amanah dalam jabatan, dan bertanggung jawab dalam kehidupan.
Akhirnya, Ramadhan adalah bulan perubahan. Jangan sampai ia datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas dalam diri kita. Jika sebelum Ramadhan kita jarang shalat tepat waktu, maka perbaikilah. Jika sebelumnya kita kurang membaca Al-Qur’an, maka biasakan. Jika sebelumnya hubungan kita dengan sesama kurang baik, maka perbaiki dan maafkan.
Semoga Ramadhan kali ini benar-benar menjadi titik balik, bukan sekadar rutinitas tahunan. Semoga kita keluar dari bulan ini dalam keadaan lebih bertakwa, lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar