Khutbah Jumat: Nikah Dulu atau Mapan Dulu?

  

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan kali ini kita akan membahas satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan pemuda dan orang tua: “lebih baik nikah dulu atau mapan dulu?” Pertanyaan ini sederhana, tetapi dampaknya besar bagi kehidupan.

1. Islam Menganjurkan Menikah

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nur: 32)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan penghalang utama untuk menikah, selama ada ikhtiar dan tawakal kepada Allah. Bahkan Allah sendiri menjanjikan kecukupan setelah menikah.

Begitu juga sabda Nabi SAW:

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu menikah, maka menikahlah…” (HR. Bukhari Muslim)

Namun, kalimat “mampu” tentu harus kita pahami dengan benar.

2. Apa Makna ‘Mampu’ dalam Menikah?

Sebagian orang mengira “mampu” berarti harus kaya raya, punya rumah sendiri, mobil sendiri, dan tabungan banyak. Padahal ulama menjelaskan bahwa makna “mampu” adalah mampu memberi nafkah yang layak, meskipun sederhana, dan mampu secara mental serta tanggung jawab.

Jadi, mapan dalam Islam bukanlah kemewahan, tetapi kesiapan dasar:

  • Ada penghasilan stabil, meski tidak besar
  • Siap memimpin dan bertanggung jawab
  • Siap menjaga pasangan dari maksiat
  • Siap berkomitmen dan saling mendukung

Jika ini ada, maka seseorang sudah dianggap mampu.

 

3. Kapan Menunda Pernikahan?

Islam sangat realistis. Menikah itu sunnah, tetapi jangan sampai menzalimi pasangan. Jika seseorang sama sekali tidak punya pekerjaan, tidak ada usaha, tidak ada perencanaan, atau masih labil emosinya, maka menunda pernikahan untuk memperbaiki diri adalah pilihan bijak.

Sebagaimana kaidah:

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang kuat, bukan yang lemah.”

Kekuatan di sini termasuk kekuatan mencari nafkah dan kekuatan mental.

4. Justru Banyak Pasangan Mapan Setelah Menikah

Tidak sedikit pasangan yang awalnya sederhana, tapi setelah menikah hidupnya menjadi lebih teratur dan rezekinya justru terbuka. Mengapa?

Karena pernikahan menghadirkan:

  • Ketenangan jiwa
  • Fokus hidup
  • Motivasi untuk bekerja lebih sungguh-sungguh
  • Doa dan dukungan pasangan

Nabi SAW bersabda bahwa pernikahan adalah penyempurna setengah agama, dan siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya.

5. Jawaban Seimbang: Siap Menikah Sambil Membangun KEMAPANAN

Jamaah yang dirahmati Allah,
Jadi sebenarnya bukan nikah dulu atau mapan dulu, tetapi siapkan kemampuan dasar, kemudian bangun kemapanan bersama setelah menikah. Tidak harus menunggu kaya, tidak pula boleh nekat tanpa bekal apa pun.

Yang Allah inginkan adalah:

  • Kesiapan bertanggung jawab
  • Usaha yang nyata
  • Niat yang benar
  • Tawakal setelah ikhtiar

 

Di antara kisah paling terkenal adalah kisah pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra.

Ketika Ali datang kepada Nabi SAW untuk melamar Fatimah, beliau tidak memiliki apa-apa selain sebuah baju besi. Itu pun ia jual untuk biaya pernikahan. Ali bukan orang kaya saat menikah. Tidak punya rumah mewah, tidak punya harta berlimpah. Namun Ali punya kesiapan iman, akhlak, dan tanggung jawab. Hasilnya? Rumah tangga mereka penuh keberkahan hingga akhir hayat.

Dari kisah ini kita belajar:
👉 Tidak harus kaya untuk menikah.
👉 Yang penting sanggup bertanggung jawab, jujur, dan berusaha.

 

Penutup

Jadi kesimpulannya:

🔹 Jika sudah punya penghasilan, sudah dewasa, dan siap mental — nikahlah.
🔹 Jika belum punya arah hidup, belum punya pekerjaan, belum matang emosinya — perbaiki dulu sebelum menikah.
🔹 Dan bila sudah menikah, bangunlah kemapanan itu bersama-sama.

Semoga Allah memberikan kita pasangan yang salih/salihah, rezeki yang berkah, dan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Keadilan dan Kesetaraan Peran Laki-laki & Perempuan dalam Keluarga

  

1. Keluarga: Tempat Pertama Menumbuhkan Keadilan

Keluarga adalah madrasah pertama bagi setiap manusia.
Di sinilah anak-anak belajar arti keadilan, tanggung jawab, dan kasih sayang.

Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Ayat ini menunjukkan bahwa pondasi keluarga adalah kasih sayang dan ketenangan, bukan kekuasaan satu pihak atas pihak lain.
Maka, keadilan dalam keluarga bukan tentang siapa yang “lebih tinggi”, tetapi bagaimana setiap peran dijalankan dengan saling menghormati.

 

2. Peran Bukan Kompetisi, tapi Kolaborasi

Islam tidak pernah menempatkan laki-laki dan perempuan dalam kompetisi, melainkan dalam kerjasama yang adil.

  • Laki-laki memiliki tanggung jawab utama sebagai qawwam (pelindung, penanggung jawab).

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan.” (QS. An-Nisa: 34)
Maknanya bukan untuk menindas, tetapi menanggung amanah dalam memberi nafkah, melindungi, dan menuntun keluarganya dengan kasih.

  • Perempuan berperan besar sebagai pendidik generasi, pengatur rumah tangga, sekaligus mitra dalam keputusan keluarga.
    Rasulullah bersabda:

“Perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, dua-duanya pemimpin dalam wilayah tanggung jawab masing-masing.
Keadilan muncul ketika keduanya menjalankan peran sesuai kemampuan, bukan berdasarkan superioritas.

 

3. Contoh Penerapan Keadilan dalam Keluarga

Situasi

Kesetaraan

Keadilan

Pembagian pekerjaan rumah

Suami dan istri saling membantu, tidak membeda-bedakan

Jika istri bekerja, suami ikut berbagi tugas rumah tangga

Pengambilan keputusan

Suami dan istri berdiskusi bersama

Suami mempertimbangkan pendapat istri sebelum memutuskan

Nafkah dan kebutuhan anak

Semua anak mendapat kasih sayang yang sama

Anak yang memiliki kebutuhan khusus diberi perhatian lebih

Waktu dan perhatian

Suami-istri saling menghargai waktu satu sama lain

Salah satu memberi lebih ketika yang lain sedang dalam kesulitan

Dengan cara itu, keluarga tidak hanya setara dalam hak, tetapi juga adil dalam hasil dan kebahagiaan.

 

 4. Contoh dari Kehidupan Rasulullah

Rasulullah adalah teladan keadilan dalam rumah tangga.
Beliau membantu pekerjaan rumah, menjahit pakaiannya sendiri, bahkan memanggil istrinya dengan panggilan lembut.

Aisyah r.a. berkata:
“Rasulullah membantu keluarganya di rumah, dan apabila tiba waktu salat, beliau keluar untuk salat.” (HR. Bukhari)

Beliau tidak pernah memandang perempuan lebih rendah, tetapi menempatkan mereka sebagai mitra kehidupan.
Inilah bentuk keadilan dan kesetaraan yang sejati  saling melengkapi, bukan saling menguasai.

 5. Hikmah dan Penutup

Saudara-saudara yang dirahmati Allah,
Keadilan dalam keluarga bukan berarti semua harus sama,
tetapi setiap anggota mendapatkan hak dan tanggung jawab sesuai porsinya.

Kesetaraan bukan menghapus peran,
melainkan memastikan setiap peran dihargai dan dijalankan dengan saling menghormati.

“Suami dan istri bukan dua pihak yang bersaing, tetapi dua sayap yang harus seimbang agar keluarga bisa terbang menuju ridha Allah.”

 

Kesimpulan Singkat

  1. Laki-laki dan perempuan setara dalam derajat, berbeda dalam tanggung jawab.
  2. Keadilan berarti menghargai peran dan kebutuhan masing-masing.
  3. Kesetaraan berarti saling mendukung tanpa diskriminasi.
  4. Keluarga yang adil dan setara melahirkan generasi yang berakhlak dan berempati.

BERIMAN TIDAK HANYA SEBATAS LISAN



Sebagai umat Islam yang beriman, keyakinan kita kepada Nabi Muhammad SAW merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan itu sendiri. Dalam rukun iman, jelas dinyatakan bahwa kita wajib beriman kepada para nabi dan rasul, dan Nabi Muhammad SAW adalah penutup para nabi, sebagaimana beliau sendiri bersabda: “Tidak ada nabi setelahku.” Allah menegaskan dalam firmannya

 

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَـٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Keyakinan ini bukan hanya sebatas doktrin, melainkan juga menjadi dasar sikap, perilaku, serta cara kita menjalani kehidupan sehari-hari. Mengenal Nabi Muhammad SAW bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan iman. Bagaimana mungkin kita beriman kepada beliau tanpa mengetahui siapa beliau? Allah sendiri memerintahkan manusia untuk mengenal dan meneladani Rasulullah, karena beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Ayat ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada manusia dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, mencintai Nabi bukan hanya perintah, melainkan kebutuhan agar kita bisa mendapatkan rahmat Allah.

Seorang Muslim hendaknya mengetahui secara garis besar siapa Nabi Muhammad SAW, kapan beliau dilahirkan, siapa ayah dan ibunya, serta bagaimana perjalanan hidup beliau sejak kecil hingga menerima wahyu. Nabi Muhammad lahir di Makkah pada tahun 571 M, dikenal dengan Tahun Gajah. Ayah beliau, Abdullah, wafat ketika Nabi masih dalam kandungan, sementara ibunya, Aminah, wafat ketika beliau berusia enam tahun. Sejak kecil, beliau telah merasakan pahitnya kehidupan sebagai yatim piatu, namun semua itu membentuk pribadi yang sabar, tangguh, dan penuh kasih sayang.

Ibarat kita menyukai seseorang, tentu kita ingin mengetahui segala hal tentangnya: di mana ia tinggal, bagaimana sifatnya, serta apa yang membuatnya istimewa. Demikian pula dengan Nabi Muhammad SAW. Rasa cinta kepada beliau tidak cukup hanya terucap di lisan, tetapi harus dibarengi dengan usaha mengenal pribadi beliau lebih dekat. Semakin kita mengenalnya, semakin besar rasa cinta yang tumbuh dalam hati, dan cinta itulah yang akan mendorong kita meneladani akhlak beliau.

 

Namun, iman tidak cukup hanya dengan ucapan. Allah menegaskan bahwa bukti cinta kepada-Nya harus diwujudkan dengan mengikuti sunnah Nabi:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad): Jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Dengan ayat ini jelas bahwa cinta kepada Allah harus diwujudkan melalui ketaatan kepada Rasulullah SAW. Mengaku beriman tanpa meneladani Nabi hanyalah klaim kosong.

Jika kita benar-benar mengaku beriman kepada Nabi Muhammad SAW, seharusnya hal itu tercermin dalam tindakan nyata. Meneladani Nabi berarti meniru akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam urusan ibadah kepada Allah, maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Rasulullah dikenal dengan sifat-sifat mulianya: jujur (ash-shiddiq), dapat dipercaya (al-amin), cerdas (fathonah), dan menyampaikan kebenaran (tabligh). Semua sifat ini seharusnya menjadi teladan yang membimbing kita dalam berinteraksi di masyarakat, bekerja, beribadah, maupun membina keluarga.

Cinta yang hanya terucap tanpa bukti ibarat cinta semu. Seseorang yang benar-benar mencintai akan membuktikan cintanya dengan pengorbanan dan tindakan. Begitu pula cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Bukti cinta itu tampak dari bagaimana kita berusaha melaksanakan sunnah beliau, menjaga ibadah, berbuat baik kepada sesama, serta memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Rasulullah SAW adalah teladan agung dalam segala aspek kehidupan: beliau pemimpin yang adil, suami yang penyayang, ayah yang penuh perhatian, sahabat yang setia, dan hamba Allah yang paling taat.

Oleh karena itu, tugas kita sebagai Muslim bukan hanya sekadar mengucapkan syahadat atau mengaku beriman, melainkan berusaha membuktikan iman itu dalam bentuk amal. Kita membaca sirah Nabi agar semakin memahami perjalanan hidupnya, kita mengikuti ajarannya agar hidup kita penuh berkah, dan kita meneladani akhlaknya agar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan begitu, iman kepada Nabi Muhammad SAW bukan hanya sekadar dogma, tetapi menjadi cahaya yang menuntun jalan hidup kita menuju ridha Allah SWT.

 

 

Sambutan Dalam Rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke- 80 Republik Indonesia



SAMBUTAN KETUA RT/RW/KarangTaruna
Dalam Rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke- 80  Republik Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Om swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.

Yang saya hormati para sesepuh, tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, serta seluruh warga yang saya cintai dan banggakan.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita semua masih diberi kesehatan, kesempatan, dan semangat untuk berkumpul bersama dalam suasana penuh syukur dan sukacita — memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Hadirin yang saya hormati,
Dalam momentum kemerdekaan ini, saya ingin mengangkat kembali sebuah kutipan dari Proklamator kita, Ir. Soekarno, yang pernah berkata:

“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Kalimat ini sederhana, tapi maknanya sangat dalam. Bung Karno berjuang di masa penjajahan, saat musuhnya jelas: bangsa asing yang menjajah negeri ini. Tapi beliau tahu, setelah kemerdekaan diraih, tantangan berikutnya akan lebih berat karena kita harus melawan hal-hal yang tidak kasat mata: perpecahan, ego, konflik internal, dan rasa saling tidak percaya antarwarga bangsa.

Melawan penjajah memang berat, tapi bersatu melawan penjajah itu lebih mudah daripada bersatu saat tidak ada musuh yang terlihat. Dan hari ini, pesan itu sangat relevan.

Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari pengorbanan para pejuang. Mereka bukan hanya mempertaruhkan tenaga, harta, tapi juga nyawa. Namun kemerdekaan itu bukanlah akhir perjuangan justru menjadi awal tanggung jawab kita untuk mengisi dan mempertahankannya.

Hadirin yang saya hormati,

Sebagai warga negara yang baik, tugas kita bukan hanya mengenang jasa pahlawan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata. Kita tidak lagi mengangkat senjata, tetapi kita bisa melawan ketidakpedulian, perpecahan, dan sikap apatis.

Melalui kegiatan peringatan 17 Agustus ini apakah itu lomba, kerja bakti, pengibaran bendera, maupun acara syukuran  kita diajak untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Ini bukan sekadar acara seremonial tahunan, melainkan sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.

Dengan saling mengenal dan bekerja sama, kita memperkuat fondasi bangsa dari lingkungan terkecil  yaitu lingkungan RT dan RW kita sendiri.

Bapak, Ibu, dan warga yang saya banggakan,

Kita tentu menyadari bahwa tantangan zaman terus berubah. Hari ini kita hidup di era digital, globalisasi, dan persaingan yang semakin kompleks. Tapi satu hal yang tetap penting dan tidak boleh hilang adalah persatuan dan kesatuan.

Tanpa itu, sehebat apapun teknologi yang kita miliki, sebesar apapun sumber daya kita, semuanya bisa hancur jika kita tidak rukun.

Maka mari kita rawat semangat gotong royong, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama. Jangan biarkan perbedaan pendapat memecah belah kita. Jangan biarkan perbedaan pilihan membuat kita lupa bahwa kita semua adalah bagian dari satu bangsa, satu tanah air Indonesia.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Di bulan kemerdekaan ini, mari kita jadikan momentum ini sebagai ajakan untuk berbuat baik, saling membantu, dan mempererat tali silaturahmi.

Mulailah dari hal-hal sederhana:

  • Sapa tetangga dengan senyum.

  • Ringankan tangan membantu warga yang sedang kesulitan.

  • Ikut serta dalam kegiatan kampung.

  • Dan yang tak kalah penting, jaga ketertiban dan kenyamanan lingkungan bersama.

Karena kemerdekaan bukan hanya milik masa lalu. Kemerdekaan adalah milik kita hari ini dan milik anak cucu kita di masa depan. Kita harus menjaga dan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat.

Penutup

Akhir kata, saya mengajak seluruh warga untuk terus menumbuhkan rasa cinta tanah air dengan cara menjaga kerukunan dan kekompakan. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan semangat saling menghargai.

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-80
Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua.
Terima kasih.


KULTUM 7 MENIT: “Kekuatan Doa untuk Palestina”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesempatan untuk terus berada di jalan-Nya. Shalawat dan salam kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umat beliau hingga akhir zaman.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pada kesempatan yang singkat ini, mari kita merenung sejenak tentang peran penting kita dalam mendoakan saudara-saudari kita di Palestina.

Mereka yang hingga hari ini masih berada dalam penderitaan, penjajahan, kehilangan keluarga, rumah, bahkan tanah air tetap berdiri teguh, sabar, dan tidak goyah dalam mempertahankan iman dan harga diri. Di tengah segala keterbatasan, mereka tetap menjalankan ibadah, bahkan masih bisa tersenyum di antara reruntuhan.

Lalu, apa peran kita? Apa kontribusi kita?

Mungkin kita tidak bisa hadir langsung di medan perjuangan mereka. Tapi ada satu kekuatan yang tidak boleh kita abaikan: DOA.

1. Doa Adalah Senjata Terkuat Orang Beriman

Rasulullah SAW bersabda:

"Ad-dua silahul mu’min."
“Doa adalah senjata orang-orang beriman.”

Jamaah sekalian,

Jangan pernah remehkan doa. Karena doa bukan hanya permohonan ia adalah getaran ruhani yang menembus langit, menggugah malaikat, bahkan menggetarkan 'Arsy Allah SWT.

Maka kita umat Islam di Indonesia, dari mimbar ke mimbar, dari masjid ke masjid jangan pernah berhenti untuk menyebut nama Palestina dalam doa-doa kita. Jangan pernah anggap itu kecil. Karena mungkin dari satu doa ikhlas seorang hamba, datang pertolongan Allah yang mengubah segalanya.

2. Membiasakan Doa di Setiap Jumat

Oleh karena itu, para khatib dan imam Jumat di seluruh penjuru negeri teruslah membiasakan menyelipkan doa untuk Palestina dalam khutbah dan qunut kita. Walaupun itu hanya beberapa kalimat, tetapi ketika disuarakan bersama oleh jutaan lisan dalam satu waktu, ia akan menjadi kekuatan dahsyat yang tak terlihat.

Jadikan hari Jumat sayyidul ayyam sebagai momen penguatan spiritual kolektif untuk saudara-saudari kita di Palestina. Jangan putus. Jangan lelah.

3. Doa sebagai Bukti Solidaritas Hati

Mungkin sebagian orang berkata: “Hanya doa?”

Saudara-saudaraku, doa bukan “hanya”. Doa adalah awal dari semua kebaikan. Ketika kita berdoa, hati kita terhubung. Dan dari hati yang terhubung, akan lahir aksi nyata, kepedulian, donasi, gerakan, dan dukungan lain yang berkelanjutan.

Doa yang tulus akan mengubah sikap kita terhadap dunia. Kita jadi lebih peduli. Kita lebih sadar akan penderitaan orang lain. Dan kita lebih mudah untuk berbuat baik.

4. Harapan dalam Ujian

Saudara-saudari kita di Palestina sedang diuji. Tapi ingat, Allah tidak akan pernah menguji kecuali untuk mengangkat derajat mereka. Maka tugas kita adalah menguatkan mereka dengan kekuatan doa kita. Kita memohon agar mereka:

  • Diberi ketabahan dan kesabaran.

  • Dilindungi jiwa dan keluarganya.

  • Diberikan kemenangan dan kemerdekaan yang hakiki.

Dan pada saat yang sama, kita juga memohon agar doa-doa itu menjadi sebab datangnya pertolongan Allah yang terbaik pertolongan yang menggetarkan ‘Arsy dan membuka jalan bagi kebebasan mereka.

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,

Mari kita jadikan doa sebagai amalan rutin yang tak pernah padam. Khususnya untuk Palestina. Mari kita hidupkan mimbar-mimbar Jumat kita, rumah-rumah kita, dan hati-hati kita dengan doa yang tulus.

Semoga Allah SWT mengangkat penderitaan mereka, memberikan mereka pertolongan terbaik, dan menjadikan kita bagian dari kaum yang peduli, yang tidak diam ketika saudara-saudara kita menderita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

KULTUM: “Pintu-Pintu Rezeki dalam Islam”


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan nikmat-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, suri teladan terbaik sepanjang zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita renungkan sejenak tentang rezeki, satu kata yang sering kita cari, kita perjuangkan, bahkan kita khawatirkan.

🔑 Rezeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah berikan kepada makhluk-Nya, baik berupa harta, kesehatan, ilmu, ketenangan, maupun keberkahan hidup. Tapi tahukah kita, bahwa rezeki tidak hanya datang dari satu arah saja? Islam mengajarkan bahwa pintu rezeki itu banyak, dan setiap muslim memiliki kesempatan untuk mengetuknya.

🌟 1. Pintu Rezeki karena TAQWA

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Talaq ayat 2-3:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2-3)

Inilah pintu rezeki utama: ketaqwaan. Ketika kita menjaga hubungan dengan Allah, menjaga shalat, meninggalkan maksiat, dan memperbanyak amal shalih, Allah menjanjikan jalan keluar dari kesempitan dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.

💼 2. Pintu Rezeki melalui USAHA

Rezeki tidak datang hanya dengan doa dan harapan. Islam memerintahkan kita untuk berusaha dan bekerja keras.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri. Dan sungguh Nabi Dawud AS makan dari hasil jerih payahnya sendiri.”
(HR. Bukhari)

Bekerja halal, berdagang jujur, menjadi profesional yang amanah—semua itu adalah pintu rezeki yang dicintai Allah.

👐 3. Pintu Rezeki dari SEDEKAH

Salah satu pintu rezeki yang justru sering kita abaikan adalah sedekah. Padahal, dalam Islam, memberi tidak akan mengurangi rezeki, bahkan justru menambahkannya.

Nabi SAW bersabda:

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Setiap kali kita memberi, kita sedang membuka pintu langit agar Allah turunkan rezeki lebih banyak lagi.

🧎 4. Pintu Rezeki lewat DOA dan ISTIGHFAR

Banyak yang bekerja keras, tapi rezekinya sempit. Mungkin karena kita lupa memperbanyak istighfar. Allah SWT berfirman:

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.’”
(QS. Nuh: 10–12)

Ternyata, istighfar bisa membuka pintu rezeki, mengundang keberkahan dari langit dan bumi.

🤝 5. Pintu Rezeki dari SILATURAHMI

Nabi SAW bersabda:

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mungkin kita belum sadar bahwa satu telepon ke kerabat, satu kunjungan ke orang tua, atau satu maaf yang kita berikan, bisa membuka pintu rezeki yang tak kita sangka.

📌 Penutup dan Refleksi

Jamaah sekalian,
Mari kita renungkan:

  • Sudahkah kita bertakwa?

  • Sudahkah kita jujur dalam usaha?

  • Sudahkah kita ringan bersedekah?

  • Sudahkah lisan kita basah dengan istighfar?

  • Sudahkah kita menyambung silaturahmi?

Allah Maha Kaya, tapi kita seringkali hanya mengetuk satu pintu, lalu kecewa karena belum terbuka. Padahal Allah membuka banyak pintu rezeki, dan mengundang kita untuk mengetuknya dengan amal dan hati yang bersih.

Wallahu a’lam bishawab.
Semoga kultum ini bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih dekat kepada Sang Pemberi Rezeki.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kultum 7 Menit: Tujuan Hidup dan Ketergantungan pada Allah


 QS. Adz-Dzariyat: 56–58

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kita, memberikan kita kehidupan, dan menunjukkan kita jalan yang lurus, yaitu jalan ibadah kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jama’ah yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan singkat ini, mari kita renungkan firman Allah dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56 sampai 58, yang berbicara tentang hakikat penciptaan manusia dan jin, serta ketergantungan kita kepada Allah SWT.

1. Tujuan Hidup yang Sebenarnya

Allah berfirman:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini begitu jelas dan tegas. Tujuan utama hidup kita bukan sekadar bekerja, mencari nafkah, bersenang-senang, atau mengejar dunia, tapi yang paling utama adalah beribadah kepada Allah. Ibadah tidak terbatas pada shalat dan puasa saja, tapi mencakup segala aktivitas yang diniatkan untuk mencari ridha Allah—termasuk bekerja, menuntut ilmu, bahkan berkeluarga, jika diniatkan karena Allah.

2. Allah Tidak Butuh Ibadah Kita

Lalu di ayat selanjutnya, Allah menegaskan:

"Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan." (QS. Adz-Dzariyat: 57)

Artinya, ibadah itu bukan untuk memenuhi kebutuhan Allah. Allah tidak butuh apa-apa dari kita. Dia tidak butuh kita memberi-Nya makanan, harta, atau bahkan pengakuan. Maka, jika kita beribadah, itu bukan untuk Allah—melainkan untuk diri kita sendiri.

Ibadah itu seperti makanan ruhani kita. Orang yang hidup tanpa ibadah, jiwanya akan kosong, hampa, dan gelisah. Maka, shalat yang kita kerjakan, sedekah yang kita keluarkan, dan amal yang kita lakukan semua akan kembali kepada kita dalam bentuk ketenangan, keberkahan, dan pertolongan Allah.

3. Allah-lah Sang Pemberi Rezeki

Ayat ke-58 menutup dengan firman Allah:

"Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS. Adz-Dzariyat: 58)

Subhanallah, ini pengingat penting bagi kita yang sering cemas tentang rezeki. Kita kadang terlalu sibuk mengejar rezeki hingga lupa untuk mendekat kepada yang memberi rezeki. Padahal, Allah-lah Ar-Razzaq, sumber dari segala rezeki. Jika kita mendekat kepada-Nya, menjalankan ibadah dengan sungguh-sungguh, maka insyaAllah rezeki akan datang dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Allah juga menyebutkan bahwa Dia adalah Dzul Quwwah al-Matin, yaitu Yang Maha Kuat dan Kokoh. Artinya, Allah tidak akan pernah lelah memberi kita rezeki, tidak akan pernah lalai memperhatikan kita, dan tidak akan pernah gagal menjaga kita.


Penutup

Jama’ah yang dimuliakan Allah,
Dari ayat-ayat ini kita belajar tiga hal besar:

  1. Kita diciptakan untuk beribadah, bukan untuk mengejar dunia semata.

  2. Allah tidak membutuhkan ibadah kita, tetapi kita yang butuh ibadah untuk menyelamatkan jiwa kita.

  3. Rezeki itu milik Allah, maka carilah dengan cara yang halal dan jangan lupa untuk selalu mendekat kepada-Nya.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang memahami tujuan hidup ini, tekun dalam ibadah, dan tidak terperdaya oleh dunia. Mari kita luruskan niat, dan terus perbaiki amal.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Yakin Tanpa Ragu, Kunci Kekuatan Iman


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umat beliau hingga akhir zaman.

Ibu-Ibu, Bapak-Bapak yang dirahmati Allah,
Kalau kita ingin memiliki iman yang kuat, iman yang mantap, maka ada satu syarat utama yang harus kita tanamkan dalam hati kita, yaitu: yakin tanpa ragu kepada semua ketentuan Allah.

Yakin. Tanpa ragu. Itulah hakikat dasar dari iman.
Iman bukan sekadar di lisan. Iman bukan hanya kata-kata. Tapi iman adalah keyakinan yang kokoh di dalam hati, yang tak tergoyahkan oleh apapun yang terjadi di dunia ini.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 2:

"Dzalikal kitaabu laa raiba fiih, hudal lil muttaqiin."
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Lihat, sejak awal Allah sudah tegaskan: tidak ada keraguan dalam wahyu-Nya. Maka orang yang ingin bertakwa, orang yang ingin imannya kokoh, harus membersihkan hatinya dari rasa ragu terhadap ketentuan Allah.

Bapak, Ibu yang saya hormati,
Kadang-kadang kita diuji dalam hidup: kehilangan harta, sakit, kehilangan orang yang dicintai, usaha bangkrut, atau cita-cita yang belum tercapai. Saat itu, syetan akan membisikkan keraguan: “Kenapa Allah begini ya? Kenapa hidup saya tidak berubah? Apa Allah tidak sayang?”

Tapi di sinilah letak ujian iman.
Kalau kita yakin pada Allah, kita akan bersabar.
Kalau kita yakin pada Allah, kita tetap optimis.
Kalau kita yakin pada Allah, kita tahu: “Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-Nya.”

Rasulullah SAW bersabda:

"Ajaban li amril mu’min, inna amrahu kullahu lahu khair."
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, semua urusannya adalah baik baginya.” (HR. Muslim)

Jadi apapun yang terjadi dalam hidup kita — senang, sedih, gagal, berhasil — selama kita yakin kepada Allah, maka semua itu adalah kebaikan.

Contoh kecil:
Ada orang jualan, dagangan sepi. Kalau dia tidak yakin, dia stres, dia marah, dia mengeluh. Tapi kalau dia yakin:
"Rezeki saya sudah Allah atur. Hari ini mungkin sedikit, tapi saya tetap ikhtiar dan sabar."
Maka dia tenang, dan Allah akan bukakan jalan.

Inilah kunci utama kekuatan iman: yakin tanpa ragu.

Dan yakin itu harus menyeluruh:

  • Yakin bahwa Allah Maha Mengetahui.

  • Yakin bahwa takdir Allah pasti yang terbaik.

  • Yakin bahwa pertolongan Allah selalu dekat.

  • Yakin bahwa janji Allah itu benar.

Allah berfirman dalam QS. At-Talaq ayat 3:

"Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Penutup:

Bapak Ibu sekalian,
Kalau kita ingin iman kita kuat, mantap, kokoh, maka jangan pernah ragu sedikit pun kepada Allah.
Yakinlah bahwa semua yang Allah tetapkan pasti ada hikmah dan kebaikannya.
Mari kita perkuat keyakinan kita, karena iman yang yakin akan membuat hidup kita tenang, sabar, dan tidak mudah goyah.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

kultum singkat : komitmen dalam cinta.

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah, yang telah menciptakan cinta sebagai anugerah suci dari langit, sebagai jalan menuju ketenangan dan kasih sayang. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, suri teladan terbaik dalam mencintai dengan komitmen, kesetiaan, dan keberanian.

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Hari ini saya ingin membahas tema yang sangat dekat dengan kita: komitmen dalam cinta.

Ada satu ungkapan yang indah:

"Jangan hanya berkata 'Aku mencintaimu'. Tunjukkan cintamu itu dengan menuliskan namaku di buku nikah kita."

Betapa dalam maknanya. Cinta bukan sekadar ucapan, bukan hanya janji manis yang mudah diucap namun hilang ditelan waktu. Cinta yang hakiki adalah cinta yang berani berkomitmen.

Kenapa demikian?

Karena cinta sejati menuntut bukti, bukan sekadar janji. Dalam Islam, cinta antara dua insan lawan jenis tidak sah jika tidak dilegalkan dalam ikatan pernikahan. Kata para ulama, “Cinta tanpa komitmen ibarat api tanpa kayu, membakar tanpa arah.

Saudaraku,

Kita sering mendengar ungkapan: "Cinta dari mata turun ke hati."
Namun kita lupa, bahwa dari hati itu jugalah muncul keyakinan. Dan dalam proses menuju pernikahan, keyakinan hati menjadi hal yang utama.

Itulah mengapa ketika seorang wanita dilamar, ibunya tidak langsung berkata: “Kamu suka?” tapi bertanya:

"Nak, sudah mantapkah hatimu?"
Karena kemantapan hati adalah amalan batin yang tidak bisa dipaksa. Maka pastikan hatimu mantap, yakin, sebelum menerima pinangan.

Karena pernikahan bukan tentang siapa yang paling romantis, paling tampan atau cantik, atau siapa yang paling sering berkata “I love you.” Tapi siapa yang siap menuliskan namamu di buku nikah, bukan di status media sosial.

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rum ayat 21, Allah berfirman:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah).”

Cinta yang benar akan membawa ketenteraman, bukan kegelisahan. Dan itu hanya akan hadir dalam bingkai pernikahan yang sah, bukan hubungan yang digantungkan tanpa kepastian.

Penutup:

Maka wahai pemuda-pemudi Islam, jika kalian mencintai, maka seriuslah.
Jika kalian belum siap menikah, jaga dirimu, dan jaga hatimu.
Jangan biarkan cinta tumbuh tanpa arah dan tanpa tujuan. Sebab cinta itu suci dan ia pantas diperjuangkan, bukan dimainkan.

Cinta itu bukan main kata. Tapi perlu bukti Nyata

Semoga Allah anugerahkan kita cinta yang halal, cinta yang diberkahi, dan cinta yang berujung di surga.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Ingin sukses, ya harus sungguh-sungguh.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan kita kesehatan, kesempatan, dan ilmu yang bermanfaat. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan para sahabatnya yang mulia.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hari ini, saya ingin menyampaikan pesan singkat namun penting: Jika ingin serius, ingin sukses, ya harus sungguh-sungguh.

Seringkali kita mendambakan keberhasilan, cita-cita tinggi, dan masa depan yang cerah. Tapi mari kita renungkan: apakah kita sudah sungguh-sungguh? Sudahkah kita berjuang maksimal untuk meraihnya?

Coba kita lihat para perwira yang berhasil masuk sekolah militer, kampus terbaik, atau mencapai prestasi. Apakah mereka hanya mengandalkan keberuntungan? Tidak. Mereka bersungguh-sungguh. Mereka belajar serius, tidak mengandalkan “joki” atau jalan pintas. Kenapa? Karena mereka tahu, kalau ingin jadi orang besar, tidak bisa setengah hati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Ini adalah janji Allah. Bahwa hasil sebanding dengan usaha. Bukan dari manipulasi, bukan dari menyontek, bukan dari kemalasan.

Jamaah sekalian,

Kita semua punya impian. Mungkin kita ingin Indonesia Emas tahun 2045 benar-benar terwujud. Tapi mari jujur: bisakah kita mencapainya jika kita malas, menunda-nunda, atau bahkan curang dalam proses belajar?

Jika mahasiswa kuliah asal-asalan, jika pelajar hanya mengejar nilai tanpa ilmu, jika generasi muda hanya sibuk mencari jalan pintas, maka jangan heran jika negeri ini jalan di tempat.

Kesungguhan bukan hanya untuk yang mau jadi perwira. Tapi juga untuk para guru, para mahasiswa, pedagang, pengusaha, bahkan ibu rumah tangga. Semua butuh keseriusan dalam peran masing-masing. Kesungguhan adalah bentuk amanah dan tanggung jawab kita kepada Allah dan bangsa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu dari kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia menyempurnakannya."
(HR. Al-Baihaqi)

Artinya, Allah cinta kepada hamba-Nya yang serius, yang totalitas, yang tidak main-main.

Maka marilah kita mulai dari diri kita sendiri.
Yang sekolah, sekolah yang benar.
Yang kuliah, kuliah yang jujur.
Yang bekerja, bekerja yang amanah.
Yang berdakwah, berdakwah dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

InsyaAllah, kalau semua bergerak dengan kesungguhan, maka Indonesia Emas bukanlah mimpi, tapi kenyataan.

Penutup:

Mari kita niatkan semua usaha kita karena Allah. Karena jika kita serius di jalan Allah, maka dunia dan akhirat akan Allah beri. Jangan takut susah, jangan takut gagal. Yang penting kita serius dan sungguh-sungguh.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum Singkat: "Menjadikan Pekerjaan Sebagai Ibadah"


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberi kita nikmat waktu, kesehatan, dan rezeki. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, suri teladan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam bekerja dan berusaha.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hari ini kita membahas topik yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu "Menjadikan pekerjaan sebagai ibadah."

Setiap hari kita bekerja  di kantor, di sawah, berdagang, menjadi guru, sopir, atau ibu rumah tangga. Tapi pertanyaannya: apakah semua itu hanya sekadar rutinitas dunia, atau bisa menjadi jalan menuju surga?

1️⃣ Bekerja Bisa Bernilai Ibadah

Islam tidak membatasi ibadah hanya dalam bentuk shalat, puasa, atau membaca Al-Qur’an. Bahkan aktivitas duniawi seperti bekerja, jika disertai niat yang benar, akan bernilai ibadah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, jika kita niatkan pekerjaan untuk mencari rezeki yang halal, menafkahi keluarga, dan memberi manfaat kepada orang lain, maka pekerjaan itu menjadi ibadah.

2️⃣ Pekerjaan yang Diniatkan Ibadah Akan Menjadi Berkah

Berkah bukan hanya tentang jumlah, tapi tentang kebaikan yang terus tumbuh dan memberi manfaat.

Seorang pedagang yang jujur, seorang guru yang ikhlas, atau petani yang bekerja tanpa menipu hasil panennya semua akan mendapatkan berkah dari pekerjaannya.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya."
(HR. Thabrani)

Bekerja dengan niat ibadah akan menumbuhkan semangat amanah, disiplin, dan kejujuran, karena kita sadar bahwa pekerjaan kita sedang dinilai oleh Allah, bukan hanya oleh atasan atau manusia.

3️⃣ Pahala Dunia dan Akhirat

Jika pekerjaan kita niatkan untuk ibadah, maka hasilnya tidak hanya di dunia dalam bentuk rezeki, tapi juga pahala di akhirat.

Bayangkan: setiap langkah kaki menuju tempat kerja, setiap keringat yang menetes karena bekerja halal, bahkan setiap kesabaran menghadapi rekan kerja yang sulit semua bisa jadi catatan amal kebaikan.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
"Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, lalu hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, kecuali itu menjadi sedekah baginya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu juga dengan pekerjaan selama memberi manfaat, akan menjadi amal jariyah.

✨ Penutup

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mulai hari ini, mari kita perbarui niat kita saat bekerja. Jangan jadikan pekerjaan hanya sebagai rutinitas dunia, tapi sebagai ladang ibadah dan investasi akhirat.

✔️ Niat karena Allah,
✔️ Laksanakan dengan jujur dan profesional,
✔️ Dan jadikan pekerjaan kita sebagai sarana memberi manfaat bagi orang lain.

Semoga Allah memberkahi usaha kita dan menerima setiap aktivitas kita sebagai ibadah. Aamiin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum Singkat "Cara Agar Doa Cepat Terkabul"




Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Setiap dari kita tentu pernah berdoa, memohon kepada Allah atas segala harapan, impian, dan keinginan kita. Tapi tidak sedikit pula dari kita yang bertanya-tanya, "Mengapa doa saya belum juga dikabulkan?"

Maka pada kesempatan kali ini, mari kita bahas tiga cara utama agar doa kita cepat dikabulkan oleh Allah.

1️  Sampaikan Doa dengan Cara yang Baik dan Penuh Keyakinan

Rasulullah bersabda:
"Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan."
(HR. Tirmidzi)

Artinya, ketika kita berdoa, doa itu harus lahir dari hati yang yakin, bukan sekadar ucapan di lisan. Kita sampaikan doa dengan kerendahan hati, penuh harap, dengan adab yang baik seperti memuji Allah, bershalawat kepada Nabi, dan tidak tergesa-gesa.

Bayangkan kita berbicara langsung kepada Rabb kita. Maka, hadirkan hati, basahi lisan dengan kata-kata yang lembut dan tulus.

2️  Segera Menyambut Perintah Allah

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
"Maka hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapatkan petunjuk."
(QS. Al-Baqarah: 186)

Perhatikan ayat ini. Doa dikaitkan dengan ketaatan kepada Allah. Jika kita ingin doa kita didengar oleh Allah, maka kita pun harus cepat merespon perintah-perintah-Nya.

Jangan menunda sholat, jangan menunda taubat, jangan menunda kebaikan. Bagaimana kita berharap Allah cepat mengabulkan doa kita, jika kita sendiri lambat merespon perintah-Nya?

3️  Perkuat Doa dengan Amal Saleh

Amal saleh adalah salah satu penguat dan pengantar doa kita menuju langit. Dalam sebuah hadis disebutkan tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua, lalu mereka berdoa dengan menyebut amal saleh masing-masing, dan Allah menyelamatkan mereka karena amal itu.

Artinya, amal saleh mempercepat terkabulnya doa. Maka jangan malas beramal:

  • Bersedekahlah walau sedikit.
  • Perbanyak istighfar.
  • Bangun malam untuk tahajud.
  • Bantu orang tua dan orang yang kesusahan.

Amal saleh adalah bentuk keseriusan kita dalam berdoa. Jangan hanya berharap, tapi tunjukkan bukti melalui amal.

Penutup

Jamaah yang dirahmati Allah,
Doa yang dikabulkan bukan hanya tentang meminta, tapi juga tentang memantaskan diri.

✔️ Doa yang disampaikan dengan adab dan keyakinan,
✔️ Ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya,
✔️ Serta amal saleh yang memperkuatnya,

Semua itu adalah cara agar doa kita cepat dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang dikabulkan doanya, diterima amalnya, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Kultum Singkat : Investasi terbaik adalah Prioritas Anak dalam Pendidikan Agama

 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat kesempatan untuk terus memperbaiki diri dan keluarga kita dalam jalan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat, serta umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Hari ini, saya ingin mengangkat tema yang sangat penting: Prioritas Anak dalam Pendidikan Agama. Karena seberapa sibuk pun kita mencari dunia, sesungguhnya yang paling berharga untuk kita tinggalkan bukanlah harta, bukan jabatan, bukan warisan materi—melainkan anak yang shalih.

Seorang ayah bijak pernah berkata, “Meskipun aku mungkin tidak mampu menguasai semua hadis Nabi, maka anakku harus bisa mendapatkan apa yang luput dariku.”
Begitu pula katanya, “Jika aku belum mampu menjadi ahli Al-Qur’an, maka anakku harus menjadi ahlinya.”

Ini bukan sekadar ambisi, tapi visi hidup yang benar. Sebab kita ini hidup bukan hanya untuk dunia. Kita hidup untuk akhirat. Dan anak yang kita besarkan hari ini, akan menjadi salah satu sebab keselamatan atau penyesalan kita di hadapan Allah kelak.

Jama’ah sekalian,

Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Kita ingin anak kita pintar, punya karier, sukses di dunia. Tapi kadang kita lupa: bekal yang sesungguhnya adalah ilmu agama. Ilmu yang akan menuntunnya di dunia dan menyelamatkannya di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda:

"Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya."
(HR. Muslim)

Perhatikan, anak shalih disebut sebagai sebab pahala yang terus mengalir. Tapi bagaimana bisa anak itu menjadi shalih kalau pendidikan agamanya kita abaikan? Kalau sejak kecil ia tidak dekat dengan Al-Qur’an, tidak mengenal Rasulnya, tidak tahu halal-haram?

Jama’ah yang dimuliakan Allah,

Kita tidak sedang mendidik anak hanya untuk menjadi lulusan terbaik, tapi sedang mempersiapkan mereka menjadi investasi akhirat. Maka ketika kita prioritaskan mereka belajar Al-Qur’an, kita bukan sedang menunda dunia, tapi sedang menyiapkan mahkota di surga.

Ada hadis yang indah:

"Barang siapa membaca Al-Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka kedua orang tuanya akan dikenakan mahkota dari cahaya pada hari kiamat..."
(HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Bayangkan, orang tua yang mungkin tidak hafal Qur’an, tidak paham hadis, tapi karena anaknya menjadi ahli agama, maka ia mendapat kemuliaan luar biasa di akhirat.

Saudara-saudaraku,

Akhirat itu bukan tentang siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling bertakwa. Dan pendidikan agama anak adalah salah satu jalan utama untuk meraih itu. Maka mulai hari ini, mari kita evaluasi:

  • Sudahkah kita menyisihkan waktu dan biaya untuk pendidikan agama anak?
  • Sudahkah kita menjadikan mereka dekat dengan Al-Qur’an dan hadis?
  • Ataukah kita sibuk mencari dunia, lalu membiarkan mereka sibuk dengan dunia juga?

Penutup,

Jika hari ini kita belum sempurna dalam agama, jangan biarkan anak-anak kita mewarisi kekurangan kita. Biarlah kita yang tidak hafal Qur’an, tapi anak kita jadi penghafal. Biarlah kita yang belum paham hadis, tapi anak kita jadi ahli hadis. Itulah investasi sejati.

Karena kelak di akhirat, kita tidak bangga karena anak kita jadi direktur, tapi karena ia bisa menolong kita dengan doa dan ilmunya yang bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Khutbah Jumat : Rizki Tidak Datang Kepada yang Diam.”

 Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan juga kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan takwa yang sebenar-benarnya. Takwa adalah bekal terbaik dalam hidup dan kematian.

Pada kesempatan Jumat yang mulia ini, khutbah kita mengangkat tema: “Rizki Tidak Datang Kepada yang Diam.”

Sering kali kita berpikir bahwa rizki akan datang dengan sendirinya. Duduk saja, menunggu keberuntungan, berharap mukjizat datang dari langit. Padahal, rizki itu datang setelah ada gerak, ada usaha, ada ikhtiar. Tidak cukup dengan berdoa sambil duduk diam, tapi harus dibarengi dengan tindakan nyata.

Bayangkan seseorang sedang haus di dalam masjid. Ia duduk diam, tidak bersuara, tidak bergerak. Apakah hausnya akan hilang? Tidak. Tapi kalau dia bangkit, melangkah, lalu berkata,

"Pak, saya haus sekali. Bolehkah saya minta air?"

Maka dengan izin Allah, air itu keluar. Bahkan mungkin bukan hanya air, bisa jadi juga diberi makanan. Apa pelajarannya? Kalau kita bergerak, meminta dengan cara yang baik, melakukan sesuatu, maka pintu rizki itu akan terbuka.

Sebaliknya, jika kita hanya diam, hanya pasrah tanpa usaha, kita justru sedang menutup pintu rizki itu sendiri. Kita sedang menjauhkan diri dari sunnatullah dalam memperoleh rezeki.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

"Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya."
(QS. An-Najm: 39)

Ayat ini menegaskan bahwa usaha adalah kunci. Rezeki tidak turun dari langit begitu saja tanpa upaya. Bahkan burung pun harus keluar dari sarangnya di pagi hari, terbang, mencari makan, baru kembali dalam keadaan kenyang.

Rezeki itu harus dicari, harus dijemput, dan diperjuangkan. Tapi tentu, dengan cara yang halal, dengan penuh kesabaran, dan dengan keyakinan bahwa Allah tidak akan mengecewakan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Ma’asyiral Muslimin,

Ketahuilah bahwa rizki itu ibarat air yang mengalir. Tapi air itu tidak akan sampai kepada orang yang malas menggali. Air tidak akan masuk ke rumah orang yang enggan membuka pintu. Begitu juga rezeki. Ia tidak datang kepada mereka yang pasif dan enggan berusaha.

Perhatikan hal-hal sederhana di sekitar kita. Seorang tukang parkir, hanya dengan berkata,

“Mundur, mundur, balas kiri, balas kanan…”
Maka dengan kalimat kecil itu, rezeki pun mengalir. Kita memberi dua ribu, ia ucapkan,
“Terima kasih, Pak.”
Kita beri lima ribu,
“Terima kasih, Om.”
Kita beri sepuluh ribu,
“Terima kasih, Bos!”

Apa pelajarannya? Satu kalimat kecil yang disertai usaha, bisa menghadirkan rezeki. Artinya, setiap langkah kita, sekecil apapun, bisa menjadi pembuka pintu keberkahan dari langit dan bumi.

Begitu pula ketika kita sedang berjuang mencari pekerjaan. Kita mungkin ditolak berkali-kali. Hari pertama gagal, hari kedua tidak ada kabar, hari ketiga juga nihil. Tapi setelah satu minggu, sebulan, tiba-tiba datang tawaran pekerjaan dengan gaji di luar ekspektasi.

Itulah bentuk lain dari rezeki: hasil akumulasi ikhtiar kita. Usaha kita tidak hilang. Hanya saja, Allah sedang menunda untuk waktu yang lebih baik. Karena Allah Maha Mengetahui kapan waktu yang paling tepat untuk memberi.

Jangan diam. Bergeraklah. Karena setiap gerakan kita dalam mencari rezeki, jika disertai kejujuran dan tawakal, akan menjadi wasilah turunnya pertolongan Allah.

Penutup Khutbah

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Mari kita tingkatkan semangat dalam bekerja dan berusaha, dalam belajar dan berdagang, dalam menafkahi keluarga dengan jalan halal. Karena itu adalah bentuk ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah. Dan jangan lupa, iringi setiap usaha dengan doa dan tawakal.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ،
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Jumat: Nikah Dulu atau Mapan Dulu?

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat...